Jumat, 04 Desember 2009

Contoh Skripsi

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Pada sekarang ini Pendidikan telah mengalami perkembangan yang disesuaikan dengan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Sejalan dengan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, peranan pendidikan sebagai usaha sadar untuk meningkatkan sumber daya manusia menjadi perhatian khusus bagi pemerintah dan masyarakat, sehingga pemerintah selalu mengadakan pembaharuan untuk mengembangkan dan meningkatkan pendidikan nasional.
Pendidikan adalah suatu hal yang sangat diprioritaskan, karena pendidikan merupakan kewajiban yang berlangsung sepanjang hayat, selama seseorang masih hidup dan berakal sehat. Oleh karena itu dengan adanya pendidikan dapat menghasilkan manusia yang memiliki kemampuan berpikir logis, bersikap kritis, berinisiatif, unggul, dan kompetitif selain menguasai ilmu pengetahuan dan keterampilan dasar.
Keberhasilan dalam pendidikan merupakan suatu hal yang sangat diharapkan, seperti keberhasilan dalam proses belajar mengajar di sekolah. Untuk mencapai keberhasilan ini dapat melibatkan beberapa peran, diantaranya yaitu : peran guru sebagai pengajar dan peran siswa sebagai peserta belajar. Guru dan siswa dapat saling berinteraksi untuk mencapai keberhasilan pembelajaran. Prestasi belajar yang tinggi sangat diharapkan oleh siswa, oleh guru maupun orangtua, karena dengan prestasi belajar yang tinggi dapat dijadikan sebagai tolak ukur dalam keberhasilan proses belajar mengajar, serta tercapainya tujuan pendidikan. Tetapi dalam kenyataan di lapangan sampai saat ini hasilnya masih kurang memuaskan, bahkan mata pelajaran Matematika masih dianggap sebagai pelajaran yang sulit dipahami oleh siswa.
Proses belajar yang dialami oleh siswa tidak selalu benar sebagaimana yang diharapkan, terkadang banyak mengalami hambatan dan kesulitan. Hambatan tersebut dapat timbul dari kondisi internal dan eksternal siswa. Dalam hal ini Sujana (dalam Suparta 1989:2006) menyatakan : “ Hasil belajar yang dicapai siswa dapat dipengaruhi dua faktor utama yaitu dari dalam siswa berupa kemampuan yang dimiliki siswa dan faktor yang datang dari luar diri siswa atau faktor lingkungan berupa kualitas pengajaran “.
Untuk meningkatkan prestasi belajar siswa, khususnya mata pelajaran Matematika, maka faktor–faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar harus diperhatikan. Ruseffendi (dalam Suparta 1988 : 2006) menyatakan : “ faktor– faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar siswa meliputi faktor yang sepenuhnya tergantung pada siswa yakni kecerdasan anak, kesiapan anak, bakat anak. Sedangkan faktor dari luar yakni kemampuan / kompetensi guru, suasana belajar, sikap dan kepribadian guru serta kondisi masyarakat “.
Dalam keseluruhan upaya pendidikan PBM (Proses Belajar Mengajar) merupakan aktivitas paling penting, karena melalui proses itulah tujuan pendidikan akan dicapai dalm bentuk perubahan prilaku siswa. Undang- Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Pasal 3 Tahun 2003, yaitu :
“Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

Dari pengertian di atas tergambar secara jelas bahwa pendidikan nasional bertujuan untuk membina dan menggambarkan persatuan bangsa diawali dari pemberian bekal pengetahuan, sikap dan keterampilan kepada peserta didik. Salah satu tujuan pendidikan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Salah satu tolak ukur untuk menilai keberhasilan mengajar menggunakan hasil yang dicapai siswa dalam belajar, yaitu hasil ujian nasional (UN).
Proses belajar mengajar merupakan kegiatan inti dalam proses pendidikan. Dalam kegiatan tersebut terjadi interaksi antar berbagai unsur pengajaran. Bila ditelusuri secara mendalam, maka unsur pengajaran dapat dikelompokan ke dalam tiga kategori utama, yaitu : guru, materi pelajaran, dan siswa. Intraksi antara ketiga unsur ini melibatkan sarana dan prasarana lingkungan belajar, sehingga tercipta situasi belajar mengajar yang memungkinkan tercapainya tujuan yang telah direncanakan sebelumnya.
Upaya untuk lebih meningkatkan keberhasilan siswa diantaranya dapat dilakukan melalui perbaikan proses pengajaran. Dalam perbaikan proses pengajaran ini peranan guru sangat penting. Oleh karena itu guru sepatutnya mampu mencari strategi yang dipandang dapat membelajarkan siswa melalui proses pengajaran dapat tercapai secara efektif, dan hasil belajarpun diharapkan dapat lebih ditingkatkan.
Seorang guru juga harus mampu memilih strategi mengajar yang tepat untuk dapat menumbuhkan semangat dan minat siswa dalam belajar. Dalam kaitanya dengan belajar mengajar, strategi dimaksud sebagai daya upaya guru dalam menciptakan suatu sistem lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar mengajar. Sesuai dengan hal tersebut Tim MKPBM ( dalam Fatah 2007:3) mengemukakan bahwa pengertian strategi pembelajaran adalah siasat atau kiat yang sengaja direncanakan oleh guru. Berkenaan dengan segala persiapan pembelajaran agar pelaksanaan pembelajaran berjalan dengan lancar dan tujuannya yang berupa hasil belajar bisa tercapai secara optimal.
Salah satu cara yang dipandang sebagai alternatif untuk meningkatkan prestasi siswa dalam pembelajaran matematika adalah dengan menggunakan pendekatan realistik atau Realistic Mathematics Education (RME). Sebagaimana diungkapakan De Lang (dalam Rahayu dalam Omdana, 2006:6) RME adalah suatu teori pembelajaran yang dikembangkan di Belanda sejak awal 70-an. Teori ini telah banyak diadopsi da diadaptasikan oleh banyak negara seperti Inggris, Brazil, jepang, dan USA. Selain itu Romberg dan De Lang ( dalam Rahayu dalam Omdana, 2006:6) mengemukakan salah satu hasil yang dicapai Belanda dan negara-negara tersebut, bahwa prestasi belajar siswa meningkat secara nasional dan internasional
Berdasarkan uraian diatas muncul pertanyaan dalam diri penulis, berkenaan dengan cara terbaik yang dapat dilakukan guru dalam membantu kegiatan belajar siswa, sehingga diharapkan dapat meningkatkan minat dan hasil belajar siswa, khususnya pelajaran matematika. Oleh karena itu penulis melakukan penelitian di SMP Negeri 1 Cisalak dengan judul “Pembelajaran Matematika dengan menggunakan Pendekatan Realistik untuk Meningkatkan Minat Belajar dan hasil Belajar Siswa”.

1.2 Batasan Masalah
Berhubungan keterbatasan penulis dalam melakukan penelitian ini, maka penelitian di atas penulis batasi yakni “Apakah Pembelajaran dengan Menggunakan Pendekatan Realistik Memberikan Pengaruh Terhadap Minat dan Hasil Belajar dalam Pembelajaran Matematika Siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Cisalak“.
1.3 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, masalah utama dalam penelitian ini adalah “Apakah pelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan realistik dapat meningkatkan meningkatkan minat dan hasil belajar siswa kelas VII SMP Negeri 1 Cisalak?’’.
Masalah utama tersebut dirumuskan dalam sub masalah berikut :
1. Apakah hasil belajar siswa yang pembelajarannya menggunakan pendekatan realistik lebih tinggi daripada hasil belajar siswa yang pembelajarannya dengan menggunakan pendekatan konvesional?
2. Seberapa besar pengaruh peningkatan dari pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan realistik terhadap hasil belajar siswa?
3. Bagaimana respon siswa terhadap pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan realistik?
1.4 Tujuan Penilitian
Sesuai dengan permasalahan yang telah dirumuskan di atas, peneliti bertujuan untuk :
1. Ingin mengetahui apakah hasil belajar siswa yang pembelajarannya menggunakan pendekatan realistik lebih tinggi daripada siswa yang pembelajarannya menggunakan pendekatan konvensional.
2. Ingin mengetahui seberapa besar pengaruh peningkatan dari pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan realistik terhadap hasil belajar siswa.
3. Ingin mengetahui bagaimana respon siswa terhadap pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan realistik.
1.5 Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini ada dua, yaitu manfaat teoritis, dan manfaat praktis.

1.5.1 Manfaat Teoritis
Adapun beberapa manfaat dari penelitian ini secara teoritis yaiyu sebagai berikut :
1. Agar guru bidang studi bisa menggunakannya sebagai alternatif yang lain dalam proses belajar mengajar Matematika
2. Agar kesulitan yang dialami siswa pada pembelajaran Matematika dapat diatasi untuk perbaikan

1.5.2 Manfaat Praktis
Selain manfaat teoritis dalam penelitian ini terdapat juga manfaat praktis, yaitu sebagai berikut :
1. Agar mengetahui peranan pendekatan realistik yang digunakan di dalam pembelajaran Matematika ini dapat meningkatkan minat belajar siswa di dalam pembelajaran Matematika.
2. Untuk mengukur sejauh mana atau seberapa besar prestasi yang dicapai siswa dengan pembelajaran Matematika dengan menggunakan pendekatan realistik
1.6 Definisi Operasional
Untuk menghindari kesalah pahaman atau penafsiran pada istilah–istilah yang dipakai pada penelitian ini, maka penulis perlu menjelaskan makna dari istilah–istilah berikut :
1. Pembelajaran
Pembelajaran merupakan proses memberi suasana terjadinya perubahan perilaku individu (belajar) yang terkait tujuan.
2. Pendekatan Realistik
Pendekatan realistik merupakan pendekatan yang menggunakan situasi kehidupan sehari – hari dalam dunia nyata yang dituangkan dalam bentuk contoh pada saat pembelajaran berlangsung
3. Minat Belajar
Minat Belajar adalah banyak sedikitnya kesadaran dan perhatian yang menyertai aktivitas yang mempengaruhi perubahan pada pengetahuan, keterampilan, dan sikap.
4. Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan perwujudan kemampuan atau kecakapan yang dimiliki oleh siswa setelah melalui suatu proses pembelajaran di dalam kelas.

1.7 Anggapan Dasar
1. Minat dan motivasi belajar siswa terhadap pelajaran Matematika siswa kurang.
2. Pendekatan yang digunakan kurang menarik perhatian dan kurang merangsang minat belajar Matematika siswa.
3. Rendahnya prestasi siswa dalam pelajaran Matematika (Balitbang Depdiknas).

1.8 Hipotesis Penelitian
Hipotesis merupakan pernyataan atau dugaan atau jawaban sementara yang dibuat peneliti yang akan diuji kebenaranynya, sehingga hipotesis dapat diterima atau ditolak. Berdasarkan anggapan dasar diatas, maka hipotesis yang peneliti kemukakan adalah “Terdapat keterkaitan antara pembelajaran Matematika dengan menggunakan pendekatan Realistik terhadap minat dan hasil belajar Matematika siswa”.

1.9 Metodologi Penelitian
Penulis melakukan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya keterkaitan antara pembelajaran matematiak dengan menggunakan pendekatan realistik terhadap minat dan hasil belajar siswa.
Penelitian ini merupakan studi eksperimen yang menggunakan obyek penelitian berupa sampel yang diambil dari populasi siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Cisalak.
Sedangkan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan menggunakan tekhnik test yang berupa pretest dan posttest dengan mengunakan pendekatan realistik, sedang data hasil belajar diperoleh dari hasil tes akhir.
Analisis data yang digunakan dalam penetian menggunakan analisis data dengan menggunakan analisis statistik yaitu :
a. Teknik Komparasi (perbandingan) Dua Sampel Independen atau Uji persamaan Dua rata –rata kelompok eksperimen dan kontrol
b. Teknik analisis regresi hasil belajar matematika siswa kelas eksperimen.
Sehubungan dengan metode eksperimen penulis melakukan eksperimen mengajar di kelas dengan menggunakan Pendekatan Realistik untuk kelompok eksperimen dan menggunakan pembelajaran biasa untuk kelas kontrol (perbandingan).
Desain penelitiannya melibatkan obyek atau kelompok yang berbeda, sebagai berikut :
1. Kelompok eksperimen yaitu kelompok siswa yang pembelajarannya dengan menggunakan Pendekatan Realistik.
2. Sedang kelompok kontrol ialah sekolompok siswa yang pembelajarannya tidak menggunakan Pendekatan Realistik (non Realistik)
Penelitian ini untuk mengetahui adanya pengaruh pembelajaran dengan menggunakan Pendekatan Realistik terhadap minat dan prestasi belajar Matematika siswa.


1.10 Sistematika Penulisan
Dari hasil penelitian akan disusun dalam 5 (lima) bab yang penulis uraikan sebagai berikut :
BAB 1 PENDAHULUAN
Terdiri dari pendahuluan, latar belakang masalah, batasan masalah, rumusan maslah, tujuan penelitian, manfaat penelitian,definisi operasional, anggapan dasar, hipotesis penelitian, metodologi penelitian, dan sistematika penulisan.
BAB II LANDASAN TEORI
Pada bab ini akan menguraikan tentang pengertian pembelajaran menggunakan pendekatan realistik
BABIII METODE PENELITIAN
Pada bab ini akan menjelaskan tentang metodologi penelitian, lokasi, dan agenda penelitian, populasi dan sampel, teknik pengolahan data dan analisa data.
BAB IV PEMBAHASAN DAN HASIL PENELITIAN
Bab ini merupakan pembahasan dan hasil penelitian yang penulis ajukan.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
Bab ini merupakan bab penutup dari penelitian yang menguraikan tentang kesimpulan dan saran-saran yang bersifat membangun untuk kemajuan ilmu pendidikan dimasa yang akan datang.



















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Hakikat Belajar dan Mengajar
2.1.1 Proses Belajar
Belajar artinya berusaha (berlatih dan sebagainya) supaya mendapatkan suatu panduan (Kamus Umum Bahasa Indonesia). Sedangkan dalam Wittaker (1970:215) yang dikutip Westy Soemanto (dalam Fatah 2007:12) menyebutkan bahwa : belajar dapat didefinisikan sebagai proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman (learning may be defined as the proscess by which behavior originates or as altered through training or experience).
Menurut Fontana (dalam Tim MKPMB, 2001:8), pengertian belajar adalah proses perubahan tingkah laku individual yang relatif tetap sebagai hasil dari pengalaman. Selanjutnya Arifin dalam (Hartini dalam Fatah, 2007:12) memberikan definisi sebagai berikut :
Belajar adalah suatu kegiatan pesserta didik dalam menerima, menenggapi, serta menganalisa bahan-bahan pelajaran yang disajikan oleh para guru yang berakhir pada kemampuan anak, menguasai bahan pelajaran yang disajikan itu. Dengan kata lain, belajar adalah suatu rangkaian proses kegiatan respons yang terjadi dalam suatu rangkaian belajar mengajar yang berakhir pada terjadinya perubahan tingkah laku, baik jasmaniah maupun rohaniah akibat pengalaman atau pengetahuan yang diperoleh.

Belajar selalu melibatkan tiga hal pokok yaitu : adanya perubahan tingkah laku, sifat perubahannya relatif permanen serta perubahan tersebut disebabkan oleh interaksi dengan lingkungan, bukan oleh proses kedewasaan ataupun perubahan kondisi fisik yang sifatnya temporer. Oleh karena itu, pada prinsinya belajar adalah proses perubahan tingkah laku sebagai akibat interaksi antara siswa dengan sumber–sumber belajar, baik sumber yang didesain maupun yang dimanfaatkan. Proses belajar tidak hanya trerjadi karena adanya interaksi antara siswa dengan guru, namun hasil belajar yang maksimal juga bisa diperoleh dari interaksi antara siswa dengan sumber-sumber belajar lainnya.
Dari uraian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman dalam interaksai dengan lingkingan.
Belajar sebagaimana yang dikemukakan diatas merupakan suatu proses yang dilakukan oleh seseorang, sehingga terjadi perubahan pada diri orang tersebut. Perubahan tersebut mencakup perubahan tingkah laku secaran keseluruhan, baik dalam hal pengetahuan (kognitif), nilai sikap (afektif), maupun keterampilan (psikomotor).

2.1.2 Mengajar
Menurut Arifin (dalam Muhibin Syahdalam Fatah, 2007:14) :
“Mengajar merupakan suatu rangkaian kegiatan penyampaian bahan pelajaran kepada murid agar dapat menerima, menanggapi, menguasai dan mengembangkan bahan pelajaran itu” .

Dari definisi di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa mengajar itu pada intinya mengarah pada timbulnya prilaku belajar siswa. Mengajar merupakan aktivitas yang dilakukan oleh seorang guru dalam proses pembelajaran. Guru memegang peranan penting dalam kegiatan pembelajaran, oleh karena itu guru harus memiliki berbagai pengetahuan dan kemampuan untuk mencapai hasil yang lebih baik sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.
Dalam menjalankan tugas sehari-hari, setiap guru akan melaksanakan pembelajaran di kelas, disadari atau tidak, akan memilih strategi tertentu agar pelaksanaan pembelajaran yang dilakukannya di kelas berjalan dengan hasil optimal. Strategi pembelajaran yang dilakukan oleh guru Matematika sebelum melaksanakan pembelajaran Matematika di kelas, biasanya dibuat secara tertulis, mulai dari telaah kurikulum, penyusunan program tahunan, program semester, silabus, sampai pembuatan rencana pelaksanaan pembelajaran. Strategi pembelajaran meliputi pendekatan, metode, teknik, model pembelajaran, bentuk media, sumber belajar, pengelompokan peserta didik, dan upaya evaluasi dampak pembelajaran.
Pendekatan pembelajaran Matematika adalah cara yang ditempuh guru dalam pelaksanaan pembelajaran agar konsep yang disajikan bisa beradaptasi dengan siswa. Ada dua jenis pendekatan dalam pembelajaran matematika, yaitu pendekatan yang bersifat metodologi dan pendekatan bersifat materi. Pendekatan metodologi diantaranya adalah pendekatan intuitif, analitik, sintetik, spiral, induktif, deduktif, tematik, realistik, heuristik. Sedangakan pendekatan material yaitu pendekatan pembelajaran matematika dengan dalam penyajian konsep matematika disajikan dengan konsep lain.
Ada beberapa macam metode pengajaran yang dapat digunakan dalam pembelajaran matematika, diantaranya metode ceramah, tanya jawab, dikusi, pemberian tugas belajar (resitasi), demonstrasi dan eksperimen, kerja kelompok, wisata, mengajar beregu (team teaching).

2.2 Hakikat Pendidikan Matematika
2.2.1 Matematika Sekolah
Matematika sekolah adalah matematika yang diajarkan di jenjang persekolahan seperti Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, dan Sekolah Menengah Atas. Matematika sekolah tidaklah sepenuhnya sama dengan matematika sebagai ilmu. Dikatakan tidak sepenuhnyan sama, karena memiliki perbedaan, antara lain :
1. Penyajian Matematika
Penyajian atau pengungkapan butir-butir matematika di sekolah disesuaikan dengan perkiraan perkembangan intelektual peserta didik dengan mengaitkan butir yang akan disampaikan dengan realitas disekitar siswa atau disesuaikan dengan pemakaiannya. Penyajian Matematika di SMA berbeda dengan penyajian di SMP maupun di SD.
2. Pola Pikir Matematika
Pola pikir matematika secara ilmu adalah deduktif. Sifat atau teorema yang ditentukan secara induktuf ataupun empirik kemudian dibuktikan kebenarannya dengan langkah-langkah deduktif sesuai strukturnya. Tidaklah demikian halnya dengan Matematika sekolah, meskipun siswa pada akhirnya diharapkan mampu berpikir deduktif namun dalam proses pembelajarannya dapat digunakan pola pikir induktif. Pola pikir induktif yang digunakan yang dimaksud untuk menyesuaikan dengan tahap perkembangan intelektual siswa.
3. Keterbatasan Semesta
Sebagai akibat dipilihnya unsur atau elemen matematika sekolah dengan memperhatikan aspek kependidikan, dapat terjadi “penyederhanaan” pada konsep matematika yang kompleks. Pengertian semesta pembicaraan tetap diperlukan namun mungkin sekali lebih dipersempit. Selanjutnya semakin meningkat usia siswa, yang berarti meningkat juga tahap perkembangannya, maka semesta itu berangsur lebih diperluas lagi.
4. Tingkat Keabstrakan
Objek matematika adalah abstrak. Sifat abstrak objek matematika tersebut tetap ada pada matematika sekolah. Hal ini merupakan salah satu penyebab sulitnya seorang guru mengajarkan matematika sekolah. Seorang guru matematika harus mengurangi sifat abstrak dari objek matematika sehingga memudahkan siswa dalam menangkap pelajaran matematika sesuai dengan tingkatannya.

2.2.2 Fungsi dan Tujuan Pendidikan Matematika
Fungsi matematika sekolah adalah sebagai salah satu unsur masukan instrumental, yang memiliki obyek dasar abstrak dan melandaskan kebenaran, konsistensi, dalam setiap proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan pendidikan. Kebenaran konsistensi adalah kebenaran yang terdahulu yang telah diterima. Tujuan pembelajaran matematika yang dituntut dalam kurikulum 2006 adalah :
1. Melatih cara berfikir dan bernalar dalam menarik kesimpulan, misalnya melalui kegiatan penyelildikan, eksplorasi, eksperimen, menunjukan kesamaan, perbedaan, konsisten dan inkonsistensi.
2. Mengembangkan aktivitas kreatif yang melkibatkan imajinasi, institusi, dan penemuan dengan mengembangkan pemikiran divergen, orisinil, rasa ingin tahu, membuat prediksi dan dugaan, serta mencoba-coba.
3. Mengembangkan kemampuan pemecahan maslah.
4. Mengembangkan kemampuann menyampaikan informasi atau mengkomunikasikan gagasan antara lain melalui pembicartaan lisan, catatan, grafik, peta, diagram, dan menjelaskan gagasan.
Kecakapan dan kamahiran matematika yang diharapkan dapat tercapai dalam belajar matematika adalah:
1. Menunjukan pemahaman konsep matematika yang dipelajari, menjelaskan keterkaitan anatar konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma secara luwes, efisien, dan tepat dalam pemecahan masalah
2. Memiliki kemampuan mengkomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, grafik, atau diagram untuk memperjelas keadaan atau masalah.
3. Menggunakanan penalaran pada pola, sifat atau melakukan manifulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika.
4. Menunujukan kemampuan strategik dalam membuat (merumuskan), menafsirkan dan menyelesaikan model matematika dalam pemecahan masalah.
5. Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan.

2.2.3 Strategi Belajar Mengajar Matematika
Strategi belajar mengajar matematika adalah seperangkat kebijaksanaan terpilih mengenai kurikulum dan materi, yang bila bersama-sama dengan tujuan, bahan pelajaran, metode mengajar dan media pengajaran dikembangkan dalam bentuk sajian seperti rencana pelaksanaan pembelajaran, modul, atau pengajaran terprogram menjadi rancangan pelajaran atau disain instruksional.

2.2.4 Tipe Pembelajaran Matematika
Ketika akan melakukan pembelajaran matematika, maka seharusnya ditetapkan sasaran yang akan dicapai. Untuk mencapai sasaran tersebut maka harus dipilih pendekatan yang tepat sehingga diperoleh hasil yang optimal, berhasil guna dan tepat guna. Demikian juga halnya dengan pelaksanaan pembelajaran matematika, diperlukan adanya suatu pendekatan khusus yang harus ditempuh guru agar konsep yang disajikan bisa disajikan dan bisa beradaptasi dengan siswa.



2.3 Pembelajaran Matematika Realistik
Matematika adalah disiplin ilmu tentang tata cara berfikir dan mengolah logika, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Pada matematika diletakan dasar bagaimana mengembangkan cara berpikir dan bertindak melalui aturan yang disebut dalil (dapat dibuktikan) dan aksioma (tanpa pembuktian). Kekhasan dari pendekatan pembelajaran matematika yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah Pendekatan Realistik atau Realistic matemathics Education (RME).
Pembelajaran Matematika Realistik adalah suatu teori dalam pendidikan matematika yang berdasarkan pada ide bahwa matematika adalah aktivitas manusia dan matematika harus dihubungkan secara nyata terhadap konteks kehidupan sehari-hari siswa sebagai suatu sumber pengembangan dan sebagai area aplikasi melalui proses matematisasi baik horizontal maupun vertikal.
Dalam Realistic Mathematics Education, siswa belajar mematematisasi masalah-masalah kontekstual. Dengan kata lain, siswa mengidentifikasi bahwa soal kontekstual harus ditransfer ke dalam soal bentuk matematika untuk lebih dipahami lebih lanjut, melalui penskemaan, perumusan dan pemvisualisasian. Hal tersebut merupakan proses matematisasi horizontal. Sedangkan matematisasi vertikal, siswa menyelesaikan bentuk matematika dari soal kontekstual dengan menggunakan konsep, operasi dan prosedur matematika yang berlaku dan dipahami siswa (Dian Armanto, 2001). Sehingga dalam matematisasi horizontal berangkat dari dunia nyata masuk ke dunia simbol sedangkan matematisasi vertikal berarti proses/pelaksanaan dalam dunia simbol.
Pada pendekatan ini peran guru tak lebih sebagai fasilitator, moderator, evaluator, sementara siswa berpikir, berkomunikasi, respponding, dan melatih nuansa demokratis dengan mernghormati pendapat orang lain.
RME (Realistic Matematic Education) banyak diwarnai pandangan feudhental tentang matematika. Adapun dua pandangan feudhental yaitu matematika harus dihubungkan dengan realitas dan matematika sebagai aktivitas manusia, sehingga siswa harus diberikan kesempatan belajar melakukan aktivitas matematisasi pada semua topik dalam matematika. Dengan menggunakan pendekatan realistik dapat diciptakan lingkungan belajar yang kondusif untuk terjadinya interaksi belajar mengajar yang lebih efektif sehingga siswa dapat membangun sendiri kemampuannya.
Beberapa karakteristik belajar mengajar matematika dengan menggunakan pendekatan realistik yang direkomendasikan oleh NCTM (1989, dalam Susilawati 2001:9 dalam Suparta 2006:16) antara lain dengan meningkatkan perhatian pada :
a. Menginvestasikan dan memformulasikan pertanyaan “problem solution”
b. Menyatakan situasi secara verbal, bilangan, grafik atau simbol
c. Menghubungkan matematika dengan subyek lain dan dunia luar kelas
d. Mengaitkan topik-topik dalam matematika
e. Menerapkan matematika
f. Menciptakan algoritma dan prosedur
g. Mengembangkan dan menggunakan tabel, grafik, aturan-aturan untuk menjelaskan situasi
h. Menggunakan macam-macam metode untuk memecahkan permasalahkan matematika.
Karakteristik Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Realistik
Pendekatan pembelajaran yang didasarkan pada RME banyak dipengaruhi oleh pandangan Freudental tentang Matematika. Salah satu filosofi yang mendasari pendekatan realistik adalah bahwa matematika bukanlah suatu kumpulan aturan-aturan atau sifat-sifat yang sudah lengkap yang harus siwa pelajari.
Pembelajaran Matematika Realistik mempunyai lima karakteristik , yaitu :
1. Menggunakan konteks yang real terhadap siswa sebagai titik awal untuk belajar.
2. Menggunakan model sebagai suatu jembatan antara real dan abstrak yang membantu siswa belajar matematika pada level abstraksi yang berbeda.
3. Menggunakan produksi siswa sendiri atau strategi sebagai hasil dari mereka “ doing mathematics”.
4. Interaksi adalah penting untuk belajar matematika antara guru dan siswa, siswa dan siswa.
5. Keterkaitan antara unit-unit matematika dan masalah-masalah yang ada dalam dunia ini.
Kelima prinsip belajar dan mengajar menurut filosofi realistik di atas inilah yang menjiwai setiap aktivitas pembelajaran matematika.
Dalam proses pengembangan bahan ajarnya, disampaikan dengan dua karakteristik yaitu percobaan berpikir dan implementasi pembelajaran. Kerangka pembelajaran matematika dengan pendekatan realistik mempunyai dua kelebihan, yaitu menuntun siswa dari keadaan yang sangat konkret melalui proses matematisasi horizontal (matematika dalam tingkat ini adalah matematika informal). Biasanya para siswa dibimbing oleh masalah-masalah konstektual, dimana dalam falsafah realistik dunia nyata digunakan sebagai pangkal permulaan dalam pengembangan konsep-konsep dan gagasan matematika.

Kurikulum Pendidikan Dasar Matematika
Pengertian
Matematika sebagai salah satu ilmu dasar, dewasa ini telah berkembang sangat pesat, baik materi maupun kegunaannya. Dengan demikian maka setiap upaya penyusunan kembali atau penyempurnaan kurikulum Matematika sekolah perlu mempertimbangkan perkembangan-perkembangan tersebut, pengalaman masa lalu, dan perkembangan masa depan.
Matematika sekolah adalah matematika yang diajarkan di pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Matematika sekolah tersebut terdiri atas bagian matematika yang dipilih guna menumbuh kembangkan kemampuan-kemampuan dan membentuk klepribadian siswa serta terpadu pada perkembangan IPTEK. Ini berarti bahwa Matematika sekolah memiliki ciri-ciri penting, yaitu (a) Memiliki obyek yang abstrak dan (b) memiliki pola pikir dedukatif dan konsisten, juga tidak dpat dipisahkan dari perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK)

Minat Belajar
Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenai beberapa kegiatan. Kegiatan yang dimiliki seseorang diperhatikan terus menerus yang disertai dengan rasa sayang. Menurut Winkel (1996:24) minat adalah “kecenderungan yang menetap dalam subjek untuk merasa tertarik pada bidang/hal tertentu dan merasa senang berkecimpung dalam bidang itu.” Selanjutnya Slameto (1995:57) mengemukakan bahwa minat adalah “kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan, kegiatan yang diminati seseorang, diperhatikan terus yang disertai dengan rasa sayang.”
Kemudian Sardiman (1992:76) mengemukakan minat adalah “suatu kondisi yang terjadi apabila seseorang melihat ciri-ciri atai arti sementara situasi yang dihubungkan dengan keinginan-keinginan atau kebutuhan-kebutuhannya sendiri”.Berdasarkan pendapat di atas, jelaslah bahwa minat besar pengaruhnya terhadap belajar atau kegiatan. Bahkan pelajaran yang menarik minat siswa lebih mudah dipelajari dan disimpan karena minat menambah kegiatan belajar. Untuk menambah minat seorang siswa di dalam menerima pelajaran di sekolah siswa diharapkan dapat mengembangkan minat untuk melakukannya sendiri. Minat belajar yang telah dimiliki siswa merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajarnya. Apabila seseorang mempunyai minat yang tinggi terhadap sesuatu hal maka akan terus berusaha untuk melakukan sehingga apa yang diinginkannya dapat tercapai sesuai dengan keinginannya.
Terlepas dari kompleksitas dalam kegiatan pemotivasian tersebut, dengan merujuk pada pemikiran Wina Senjaya (2008), di bawah ini dikemukakan beberapa petunjuk umum bagi guru dalam rangka meningkatkan motivasi belajar siswa
1. Memperjelas tujuan yang ingin dicapai
Tujuan yang jelas dapat membuat siswa paham ke arah mana ia ingin dibawa. Pemahaman siswa tentang tujuan pembelajaran dapat menumbuhkan minat siswa untuk belajar yang pada gilirannya dapat meningkatkan motivasi belajar mereka. Semakin jelas tujuan yang ingin dicapai, maka akan semakin kuat motivasi belajar siswa. Oleh sebab itu, sebelum proses pembelajaran dimulai hendaknya guru menjelaskan terlebih dulu tujuan yang ingin dicapai. Dalam hal ini, para siswa pun seyogyanya dapat dilibatkan untuk bersama-sama merumuskan tujuan belajar beserta cara-cara untuk mencapainya.
2. Membangkitkan minat siswa
Siswa akan terdorong untuk belajar manakala mereka memiliki minat untuk belajar. Oleh sebab itu, mengembangkan minat belajar siswa merupakan salah satu teknik dalam mengembangkan motivasi belajar. Beberapa cara dapat dilakukan untuk membangkitkan minat belajar siswa, diantaranya :
Hubungkan bahan pelajaran yang akan diajarkan dengan kebutuhan siswa. Minat siswa akan tumbuh manakala ia dapat menangkap bahwa materi pelajaran itu berguna untuk kehidupannya. Dengan demikian guru perlu enjelaskan keterkaitan materi pelajaran dengan kebutuhan siswa.
Sesuaikan materi pelajaran dengan tingkat pengalaman dan kemampuan siswa. Materi pelaaran yang terlalu sulit untuk dipelajari atau materi pelajaran yang jauh dari pengalaman siswa, akan tidak diminati oleh siswa. Materi pelajaran yang terlalu sulit tidak akan dapat diikuti dengan baik, yang dapat menimbulkan siswa akan gagal mencapai hasil yang optimal; dan kegagalan itu dapat membunuh minat siswa untuk belajar. Biasanya minat siswa akan tumbuh kalau ia mendapatkan kesuksesan dalam belajar. Gunakan berbagai model dan strategi pembelajaran secara bervariasi, misalnya diskusi, kerja kelompok, eksperimen, demonstrasi, dan lain-lain.
3. Ciptakan suasana yang menyenangkan dalam belajar
Siswa hanya mungkin dapat belajar dengan baik manakala ada dalam suasana yang menyenangkan, merasa aman, bebas dari rasa takut. Usahakan agar kelas selamanya dalam suasana hidup dan segar, terbebas dari rasa tegang. Untuk itu guru sekali-sekali dapat melakukan hal-hal yang lucu.
4. Berilah pujian yang wajar terhadap setiap keberhasilan siswa
Motivasi akan tumbuh manakala siswa merasa dihargai. Memberikanpujian yang wajar merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk memberikan penghargaan. Pujian tidak selamanya harus dengan kata-kata. Pujian sebagain penghargaan dapat dilakukan dengan isyarat, misalnya senyuman dan anggukan yang wajar, atau mungkin dengan tatapan mata yang meyakinkan.
5. Berikan penilaian
Banyak siswa yang belajar karena ingin memperoleh nilai bagus. Untuk itu mereka belajar dengan giat. Bagi sebagian siswa nilai dapat menjadi motivasi yang kuat untuk belajar. Oleh karena itu, penilaian harus dilakukan dengan segera agar siswa secepat mungkin mengetahui hasil kerjanya. Penilaian harus dilakukan secara objektif sesuai dengan kemampuan siswa masing-masing.
6. Berilah komentar terhadap hasil pekerjaan siswa
Siswa butuh penghargaan. Penghargaan bisa dilakukan dengan memberikan komentar positif. Setelah siswa selesai mengerjakan suatu tugas, sebaiknya berikan komentar secepatnya, misalnya dengan memberikan tulisan “bagus” atau “teruskan pekerjaanmu” dan lain sebagainya. Komentar yang positif dapat meningkatkan motivasi belajar siswa.
7. Ciptakan persaingan dan kerja sama
Persaingan yang sehat dapat memberikan pengaruh yang baik untuk keberhasilan proses pembelajaran siswa. Melalui persaingan siswa dimungkinkan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk memperoleh hasil yang terbaik. Oleh sebab itu, guru harus mendesain pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk bersaing baik antara kelompok maupun antar-individu. Namun demikian, diakui persaingan tidak selamanya menguntungkan, terutama untuk siswa yang memang dirasakan tidak mampu untuk bersaing, oleh sebab itu pendekatan realistik dapat dipertimbangkan untuk menciptakan persaingan antar kelompok.
Di samping beberapa petunjuk cara membangkitkan motivasi belajar siswa di atas, adakalanya motivasi itu juga dapat dibangkitkan dengan cara-cara lain yang sifatnya negatif seperti memberikan hukuman, teguran, dan kecaman, memberikan tugas yang sedikit berat (menantang). Namun, teknik-teknik semacam itu hanya bisa digunakan dalam kasus-kasus tertentu. Beberapa ahli mengatakan dengan membangkitkan motivasi dengan cara-cara semacam itu lebih banyak merugikan siswa. Untuk itulah seandainya masih bisa dengan cara-cara yang positif, sebaiknya membangkitkan motivasi dengan cara negatif dihindari.

2.3.4 Pembelajaran matematika Pada Pokok Bahasan Sistem Persamaan Linear Dua Variabel
Obyek ilmu ukurnya adalah benda-benda. Setiap benda memiliki harga yang berbeda-beda antara benda yang satu dengan benda yang lainnya. Apabila beberapa benda dibahas sekaligus, maka perlu juga diperhatikan jumlah dan banyaknya benda yang satu dengan yang lainnya.
Dalam pembelajaran Matematika berdasarkan pendekatan Reaslistik, materi disajikan dengan bentuk persoalan-persoalan konstektual yang merupakan masalah-masalah yang menghadirkan lingkungan yang nyata bagi siswa. Sebagai contoh, persoalan konstektual tentang gambar-gambar yang mirip dengan bentuk suatu benda yang sesuai dengan benda yang disebutkan dalam soal.
Hal ini berbeda dengan pembelajaran matematika biasa, dimana persoalan yang diberikan, guru menjelaskan cara menyelesaikan, sedangkan dalam pembelajaran Matematika berdasarkan pendekatan realistik siswa dengan pengalaman yang dimilikinya mencoba menyelesaikan dengan strategi mereka sendiri, sehingga diharapkan akan muncul beragam strategi jawaban. Aspek lain yang ada pada pembelajaran dengan menggunakan pendekatan realistik adalah adanya aktivitas siswa berupa komunikasi dalam kelas, sehingga pembelajaran matematika menjadi lebih efisien.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian
Peranan metode penelitian sangat menentukan dalam upaya menghimpun data yang diperlukan dalam penelitian. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah menggunakan penelitian eksperimen. Artinya guru melakukan penelitian dengan cara mengajar di kelas dengan menggunakan dua perlakuan terhadap dua kelompok siswa, yaitu dengan menggunakan pendekatan realistik, dan pendekatan konvensional dan dilakukan pengujian hipotesis.
Ciri dari metode eksperimen adalah dengan dipilihnya dua kelas sebagai sampel untuk dilakukan penelitian. Kelas pertama dijadikan sebagai kelompok Eksperimen dengan proses belajar mengajar yang menggunakan pendekatan Realistik. Sementara kelas kedua dijadikan sebagai kelompok kontrol yang dalam proses belajarnya menggunakan cara konvensional.
Penelitian ini dilakukan untuk melihat perbedaan dan pengaruh dari penggunaan pendekatan Realistik teradap minat belajar dan prestasi belajar Matematika siswa

3.2 Subyek Penelitian
Berdasarkan masalah penelitian yang telah dipaparkan sebelumnya, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan minat belajar dan prestasi belajar Matematika siswa dengan menggunakan pendekatan Realistik. Pada dasarnya populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas SMP Negeri 1 Cisalak, namun karena keterbatasan peneliti, maka populasi pada penelitian ini dibatasi hanya siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Cisalak. Untuk sampel dalam penelitian ini dipilih secara acak dengan menggunakan metode Sampling Sederhana dua kelas dari delapan kelas VIII yang ada. Satu kelas sebagai kelas Eksperimen dan satu kelas lainnya sebagai kelas kontrol. Masing-masing kelas terdiri dari 40 orang siswa.

3.3 Desain Penelitian
Dalam penelitian ini akan diambil dua kelas sampel dari subyek populasi yang telah ditentukan, kelas pertama sebagai kelas eksperimen dan kelas kedua sebagai kelas kontrol. Kedua sampel diberi pretest untuk melihat kemampuan awal mereka. Kelas eksperimen diberikan perlakuan model pembelajaran dengan pendekatan Realistik dan kelas control diberi pembelajaran Konvensional
Setelah bahan ajar pada pokok bahasan selesai maka kedua kelas sample diberikan posttest (tes akhir). Dari pre test dan post test yang dilakukan, data hasil tes tersebut akan diproses dan dianalisis sehinggga diperoleh pengaruh dari perlakuan yang diberikan.
Berdasarkan hal-hal di atas, maka desain penelitiannya adalah:
A : O X O
A : O O
Keterangan :
A = Pemelihan sample secara aca
O = Pre test dan Post test
X= perlakuan dengan pendekatan Realistik
3.4 Prosedur Pelaksanaan Penelitian
Adapun rincian mengenai tahapan dalam penelitian ini adalah sebagaimana dijelaskan sebagai berikut :
1) Tahap Persiapan
Tahapan yang dilakukan dalam tahap persiapan ini meliputi :
a. Menyusun proposal penelitian untuk kemudian diseminarkan.
b. Memperbaiki dan menyempurnakan proposal.
c. Membuat surat penelitian dari STKIP Subang.
d. Membuat instrumen penelitian.
e. Meminta pertimbangan instrumen penelitian kepada dosen pembimbing.
f. Membuat RPP
g. Mengadakan uji coba tes dan analisis soal.
2) Tahap Pelaksanaan
Tahap pelaksanaan meliputi seluruh aktivitas pada saat belajar mengajar dan proses pengumpulan data. Adapun alat yang dipergunakan untuk pengumpulan data adalah penilaian aspek kognitif menggunakan LKS untuk kelas Realistik dan Non Realistik, pekerjaan rumah (PR) untuk individu. Pengumpulan data berupa pengumpulan berkas-berkas dari kegiatan tes tersebut.
Untuk pretest dan posttest diberikan tes bentuk uraian yang sama secara tertulis sebanyak 5 soal, setiap soal diberi bobot 1, sehingga skor maksimum adalah 10, tes dilaksanakan selama 30 menit, dan dilaksanakan pada hari yang sama. Soal pretest dan post test adalah soal yang sama dan dilaksanakan pada hari yang sama untuk kelas Eksperimen ( Realistik ) maupun kelas Kontrol (Non Realistik) dengan materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel

3.5 Instrument Penelitian
Penelitian bertujuan untuk mengetahui peningkatan minat belajar dan prestasi belajar matematika siswa dengan pendekatan Realistik, maka diperlukan instrumen yang dapat mengukur peningkatan minat dan prestasi belajar Matematika siswa baik berupa soal maupun instrumen lainnya yang dapat memberikan informasi untuk menjawad pertanyaan penelitian.
Untuk tercapainya tujuan yang diharapkan dalam penelitian ini, maka peneliti menggunakan instrumen sebagai berikut :
a. Tes
Tes diberikan sebagai pretest dan posttest untuk kelas eksperimen dan kelas kontrol. Pretest dilakukan untuk mengetahui kemampuan awal kelas eksperimen dan kelas kontrol. Pretest diberikan pada awal pertemuan pokok bahasan, sedangkan posttest dilakukan setelah materi pokok bahasan selesai. Post test dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaan yang signifikan mengenai minat belajar dan prestasi belajar matematika siswa setelah diberi perlakuan. Tes terdiri dari 10 (sepuluh) butir soal berbentuk pilihan ganda.
b. Angket
Angket yaitu cara pengumpulan data melalui sejumlah pertanyaan yang disampaiakan kepada siswa secara tertulis. Angket merupakan teknik mengumpulkan data yang digunakan oleh peneliti yang dikembangkan berdasarkan teori-teori yang digunakan. Butir pertanyaan dalam angket dikembangkan berdasarkan kisi-kisi yang disusun oleh peneliti. Angket yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari tiga buah pilihan yaitu Sangat Setuju (SS),Setuju (S), Tidak Setuju (TS), dan Sangat Tidak Setuju (STS). Angket yang diberikan bertujuan untuk mengetahui sejauh mana respons minat siswa terhadap penggunaan pembelajaran dengan pendekatan Realistik dalam Meningkatkan minat belajar dan prestasi belajar Matematika siswa dengan menggunakan Pendekatan Realistik.

3.6 Teknik Pengumpulan data
1. Penulis langsung melaksanakan proses belajar mengajar Matematika di SMP Negeri 1 Cisalak berperan sebagai guru Matematika di kelas penelitian.
2. Mengadakan pertemuan sebanyak 3 (tiga) kali dengan membahas LKS
3. Data dari desain pembelajaran dan evaluasi terkumpul sehingga diperoleh data tentang kemampuan siswa menjawab soal-soal realistik dan keberagaman strategi jawaban siswa dalam menjawab persoalan Realistik.

Teknik Pengolahan Data
1. Menentukan Indeks Validitas Butir Soal ujii Coba
Menurut Sumarna Supranata (2004:60) suatu alat evaluasi disebut valid apabila alat evaluasi tersebut dapat mengevaluasi apa yang seharusnya dievaluasi. Untuk menentukan validitas dari tes bentuk objektif, dapat dihitung dengan korelasi Biserial, rumusnya sebagai berikut :
r =
keterangan :
r = Validitas butir soal
= Rata-rata skor soal
S = Simpangan baku skor total
P = Proporsi yang menjawab benar pada butir soal yang dimaksud
q =Proporsi siswa yang menjawab salah pada butior soal
Klasifikasi indeks validitas soal adalah sebagai berikut:
TABEL 3.1
KLASIFIKASI DERAJAT VALIDITAS

Derajat Validitas Klasifikasi Validitas
0,80< 60="" sedang="" 60r="" derajat="" reabilitas="" tinggi="" 80=""> 0,15, disimpulkan bahwa hipotesis nol (H ) diterima. Artinya data hasil tes awal kelas kontrol berdistribusi normal.
b. Uji Normalitas Tes Awal Kelas Eksperimen
Hipotesa yang akan diuji adalah sebagai berikut :
H : Data hasil tes awal kelas eksperimen berdistribusi normal
H : Data hasil tes awal kelas eksperimen tidak berdistribusi normal
Pengujian hipotesis tersebut akan dilakukan menggunakan software Minitab 13 for window dengan uji Kolmogorov-Smirnov, dengan tampilan sebagai berikut :


Gambar 4.2 Uji Normalitas Kelas Eksperimen
Dengan mengambil taraf signifikansi = 5%, dan dari pengujian diperoleh p-value >0,15, dan dapat disimpulkan bahwa hipotesis nol (H ) diterima. Artinya data hasil tes awal kelas eksperimen berdistribusi normal.

4.1.2. Uji Homogenitas
Data yang digunakan dalam uji homogenitas adalah nilai hasil tes awal kelas kontrol dan kelas eksperimen. Hipotesa yang akan diuji adalahsebagai berikut :
H : = (kemampuan awal siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol homogen)
H : (kemampuan awal siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol tidak homogen)
H akan diterima jika kemampuan awal siswa kelas eksperimen dan kemampuan awal kelas kontrol homogen. Namun H dapat ditolak atau menerima H jika kemapuan awal siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol tidak homogen.
Pengujian hipotesis tersebut akan dilakukan menggunakan software Minitab 13 for window terlihat nilai statistik hitungnya adalah 0,818. Dengan mengambil taraf nyata 0,05 dan membandingkannya dengan kualitas p-value = 0,534 disimpulkan bahwa hipotesis nol (H ) diterima artinya data hasil tes akhir untuk kedua kelompok adalah homogen. dan tampilan dari penggunaan software tersebut adalah sebagai berikut :



Uji Kesamaan Variansi
Test for Equal Variances

Level1 Tes Awal Kon
Level2 Tes Awal Eks
ConfLvl 95,0000

Bonferroni confidence intervals for standard deviations

Lower Sigma Upper N Factor Levels

0,93750 1,17642 1,56887 40 Tes Awal Kontrol
1,03649 1,30064 1,73452 40 Tes Awal Eksperimen


F-Test (normal distribution)


Test Statistic: 0,818
P-Value : 0,534



Gambar 4.3 Uji Homogen Tes Awal

4.1.3. Uji Kesamaan Rerata Tes Awal
Karena data penelitian berdistribusi normal, maka untuk menguji dua buah pembelajaran digunakan uji-t dua pihak dengan tidak diketahui, misalkan adalah rata-rata kemampuan siswa kelas kontrol dan adalah rata-rata kemampuan siswa kelas eksperimen dengan pasangan hipotesisnya sebagai berikut :
H : = (Rata-rata kemampuan awal siswa kelas kontrol dan kemampuan kelas eksperimen adalah sama)
H : (Rata-rata kemampuan awal siswa kelas kontrol dan kemampuan kelas eksperimen tidak sama)
Dalam pengujian hipotesisnya peneliti menggunakan bantuan software Minitab 13 for Window dan tampilannya adalah sebagai berikut :
Two-Sample T-Test and CI: Tes Awal Kontrol; Tes Awal Eksperimen


Two-sample T for Tes Awal Kontrol vs Tes Awal Eksperimen

N Mean StDev SE Mean
Tes Awal 40 3,48 1,18 0,19
Tes Awal 40 3,48 1,30 0,21

Difference = mu Tes Awal Kontrol - mu Tes Awal Eksperimen
Estimate for difference: 0,000
95% CI for difference: (-0,552; 0,552)
T-Test of difference = 0 (vs not =): T-Value = 0,00
P-Value = 1,000 DF = 78
Both use Pooled StDev = 1,24
Gambar 4.4 Uji-t Dua Sampel
Dengan taraf signifikansi 5 %, kemudian dibandingkan dengan p-value = 1,000 maka cukup alasan untuk menerima H . Artinya dengan taraf kepercayaan 95 % rata-rata kemampuan awal siswa pada kedua kelompok adalah sama.

4.2 Analisis Data Hasil Tes Akhir
Pada pengolahan hasil tes akhir, digunakan data yang terdapat pada lampiran C. Data akan dianalisis sifat kenormalannya, homogenitas serta ada tidaknya perbedaan kemampuan setelah pembelajaran dari kelas kontrol dan kelas eksperimen.

4.2.1 Uji Normalitas
Akan diuji normalitas data tes akhir untuk masing-masing kelas kontrol dan kelas eksperimen.

a. Uji Normalitas Hasil Tes Akhir Kelompok Kontrol
Hipotesa yang akan diuji adalah sebagai berikut :
H : Data hasil tes akhir kelas kontrol berdistribusi normal
H : Data hasil tes akhir kelas kontrol tidak berdistribusi normal
Pengujian hipotesis dilakukan menggunakan Software Minitab 13 for window dengan uji Kolmogorov-Smirnov, dengan tampilan sebagai berikut :


Gambar 4.5 Uji Normalitas Tes Akhir Kelas Kontrol
Dengan mengambil taraf signifikansi 5 % dan dari pengujian diperoleh p-value > 0,15, disimpulkan bahwa hipotesis nol (H ) diterima. Artinya data hasil tes akhir kelas kontrol berdistribusi normal.
b. Uji Normalitas Tes Akhir Kelas Eksperimen
Hipotesa yang akan diuji adalah sebagai berikut :
H : Data hasil tes akhir kelas eksperimen berdistribusi normal
H : Data hasil tes akhir kelas eksperimen tidak berdistribusi normal
Pengujian hipotesis tersebut akan dilakukan menggunakan Software Minitab 13 for window dengan uji Kolmogorov-Smirnov, dengan tampilan sebagai berikut :


Gambar 4.6 Uji Normalitas Tes Akhir Kelas Eksperimen
Dengan mengambil taraf signifikansi 5 % dan dari pengujian diperoleh p-value > 0,15, disimpulkan bahwa hipotesis nol (H ) diterima. Artinya data hasil tes akhir kelas eksperimen berdistribusi normal.

4.2.2 Uji Homogenitas
Data yang digunakan dalam uji homogenitas adalah nilai hasil tes akhir kelas kontrol dan kelas eksperimen. Hipotesa yang akan diuji adalah sebagai berikut :
H : = (kemampuan akhir siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol homogen)
H : (kemampuan akhir siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol tidak homogen)
Pengujian hipotesis tersebut akan dilakukan menggunakan software Minitab 13 for window dengan mengambil taraf nyata 0,05 dan membandingkannya dengan kualitas p-value = 0,108 disimpulkan bahwa hipotesis nol (H ) diterima artinya data hasil tes akhir untuk kedua kelompok adalah homogen. Tampilan dari penggunaan software tersebut adalah sebagai berikut :

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar